jam

Rabu, 24 Desember 2014

kewirausahaan Universitas Halu Oleo Kendari




PROPOSAL PROGRAM KREATIVITAS MAHASISWA


JUDUL PROGRAM
“Lanta dan Kebab Sagu” Innovation Food Combined Timur Tengah dan Pangan Lokal Khas Sulawesi Tenggara Sebagai Upaya Peningkatan Processing Industry Tanaman Sagu


BIDANG KEGIATAN:
PKM KEWIRAUSAHAAN

Diusulkan oleh:
La Ode Abdul Asis Hasidu
(D1A112050/ 2012)
Yuyun Afrianto
(C1B112018/ 2012)
Erna
(D1A113008/ 2013)
Ahmad Saltin
(I1A212004/ 2012)
La Ode Muhammad Arjuna Ruslan
(D1A112031/ 2012)                              






UNIVERSITAS HALU OLEO
KENDARI
2014




DAFTAR ISI
HALAMAN SAMPUL....................................................................................... i
HALAMAN PENGESAHAN............................................................................ ii
DAFTAR ISI....................................................................................................... iii
RINGKASAN..................................................................................................... iv

BAB 1. PENDAHULUAN................................................................................
1.1  Latar Belakang...................................................................................... 1
1.2  Rumusan Masalah................................................................................. 2
1.3  Tujuan................................................................................................... 2
1.4  Luaran yang Diharapkan....................................................................... 2
         1.5 Manfaat................................................................................................. 2
BAB 2. GAMBARAN UMUM RENCANA USAHA.....................................
2.1  Gambaran Kondisi Lingkungan............................................................ 3
2.2  Potensi Sumber Daya dan Peluang....................................................... 3
2.3  Analisis Kelayakan Usaha.................................................................... 6
BAB 3. METODE PELAKSANAAN............................................................... 8
BAB 4. BIAYA DAN JADWAL KEGIATAN................................................
        4.1 Anggaran Biaya..................................................................................... 10
        4.2 Jadwal Kegiatan.................................................................................... 10

LAMPIRAN



















RINGKASAN
Sagu (Metroxylon sagu Rottb.) merupakan tanaman yang tumbuh secara alami di daerah dataran rendah atau rawa dengan sumber air yang melimpah.  Sagu telah lama menjadi sumber utama karbohidrat masyarakat di beberapa wilayah nusantara termasuk di daerah Sulawesi tenggara.  Produksi sagu di daerah Sulawesi tenggara memang cukup berlimpah, namun produksi sagu tidak disertai dengan perkembangan industri pengolahan sagu baik skala besar, menengah maupun skala kecil, di sisi lain selera masyarakat akan makanan yang berbahan dasar sagu cukup tinggi.  Sagu sangat baik untuk kesehatan karena rendah kalori serta dapat dijadikan sebagai makanan pengganti beras.  Selain itu sagu juga dapat diolah menjadi berbagai macam produk, baik produk makan dan minuman maupun produk non food.  Melihat tingginya nilai manfaat sagu serta masih rendahnya kompetitor sejenis, dapat membuka peluang usaha baik skala kecil maupun menengah untuk memperoleh profit yang cukup besar.  Salah satu usaha yang dapat menghasilkan profit dengan melihat peluang akan sumberdaya tanaman sagu, yaitu usaha makanan lanta dan kebab sagu.
Lanta merupakan makanan tradisional khas Suku Muna sedangkan, kebab sagu merupakan inovasi kombinasi makan timur tengah dengan pangan khas Suku Muna.  Teknik pembuatan lanta dan kebab sagu tidak jauh berbeda.  Sagu yang telah direndam dan disaring kemudian dicampurkan dengan parutan kelapa. Setelah itu campuran sagu disangrai berbentuk lingkaran dan diisi dengan gula merah atau berbagai macam sayuran, naget, saus, dan telur dadar. Sistem manajemen produksi dan pemasaran dilakukan secara teratur dengan pencatatan atau rekapitulasi dana yang baik.  Pemasaran dilakukan secara langsung dan secara online (sistem pesan antar). Diharapkan dengan kombinasi sistem pemasaran seperti ini mampu meningkatkan profit usaha makanan lanta dan kebab sagu.
Kami berharap dengan manajemen pemasaran yang berorientasi pasar dan didukung dengan kualitas produk membuat usaha ini dapat lebih cepat berkembang dan menjadi industri kuliner yang lebih besar.


Kata kunci : Sagu, Industri pengolahan, Lanta dan Kebab Sagu.












BAB 1.  PENDAHULUAN
1.1   Latar Belakang
Sagu (Metroxylon sagu Rottb.) merupakan tanaman asli Asia Tenggara. Penyebarannya meliputi Melanesia Barat sampai India Timur dan dari Mindanao Utara sampai Pulau Jawa dan Nusa Tenggara bagian selatan (Jermia, 2007). Tanaman sagu tumbuh secara alami terutama di daerah dataran rendah atau rawa dengan sumber air yang melimpah.  Sagu telah lama menjadi sumber utama karbohidrat masyarakat di beberapa wilayah nusantara termasuk di daerah Sulawesi tenggara.  Apabila indstri pengolahan sagu dapat di kembangkan dengan baik, komoditas ini dapat mengurangi masalah ketahanan pangan nasional (Widjono, 2007).  Setiap tahunnya, jumlah produksi sagu di Sulawesi tenggara semakin meningkat seiring dengan semakin banyaknya masyarakat yang menyukai sagu, untuk dijadikan sebagai makanan pengganti beras atau dijadikan sebagai bahan makanan ringan dan cemilan.  Salah satu olahan sagu yang dijadikan sebagai makanan pokok masyarakat suku tolaki adalah sinonggi. Produksi sagu di daerah Sulawesi Tenggara memang cukup berlimpah, namun industri pengolahan sagu baik industri skala besar, skala menengah, maupun skala kecil masih sangat jurang.  Hal ini mengakibatkan banyaknya hasil produksi sagu yang tidak diolah sehingga terbuang sia-sia, serta mengakibatkan rendahnya harga sagu dipasaran.  Sagu yang seharusnya dapat diolah dengan berbagai jenis produk, kini hanya dikenal sebagai makanan pengganti beras yang diolah sebagai sinonggi.  Rendahnya jumlah industri pengolahan sagu di daerah Sulawesi Tenggara diakibatkan oleh ketergantungan masyarakat akan produk olahan makanan luar, rendahnya kreativitas masyarakat, posisi tawar pengusaha industri olahan menengah (UMKM) yang masih sangat rendah, serta kurangnya modal usaha.
Tingginya produksi sagu di Sulawesi tenggara, dan masih jarangnya makanan cemilan yang terbuat dari sagu, disertai dengan tingginya permintaan dan selera masyarakat, membuka peluang untuk dapat mengembangkan usaha makanan yang terbuat dari sagu.  Besarnya peluang tersebut membuka peluang usaha usaha baik skala kecil maupun menengah bahkan industri pengolahan sagu skala besar, salah satunya usaha kedai sagu.  Kedai sagu merupakan salah satu usaha kuliner yang menyediakan berbagai makanan dan minuman sagu seperti Lanta Sagu dan Kebab Sagu yang merupakan inovasi makan kombinasi timur tengah dan pangan khas Suku Muna.


1.2   Rumusan Masalah

Rumusan masalah dalam PKM Kewirausahaan ini yaitu:
a.       Bagaimanakah model usaha dan strategi pemasaran makanan lanta dan kebab sagu yang merupakan kombinasi makanan timur tengah dan pangan khas lokal Sulawesi Tenggara?
b.      Apakah usaha ini layak dan mampu meningkatkan kemampuan finansial mahasiswa dan masyarakat?
c.       Apakah usaha ini dapat berkembang, baik segi kuantitas maupun kualitas serta mampu memberikan profit secara berkelanjutan?

1.3   Tujuan
Tujuan dari kegiatan ini yaitu:
a.       Untuk mengetahui model usaha dan strategi pemasaran makanan lanta dan kebab sagu yang merupakan kombinasi makanan timur tengah dan pangan khas lokal Sulawesi Tenggara.
b.      Untuk mengetahui kelayakan usaha dan untuk meningkatkan kemampuan finansial mahasiswa dan masyarakat.
c.       Untuk mengetahui perkembangan usaha baik kualitas, kuantitas usaha serta untuk memberikan profit secara berkelanjutan.

1.4   Luaran yang Diharapkan
Luaran yang diharapkan dari kegiatan ini yaitu:
a.       Produk makanan lanta dan kebab sagu yang merupakan inovasi makanan hasil kombinasi makanan timur tengah dan pangan lokal Sulawesi Tenggara.
b.      Terciptanya jiwa kewirausahaan dalam mengembangkan usaha produk pangan lokal.
c.       Meningkatkan kemandirian mahasiswa dalam berwirausaha sehingga mampu mengatasi masalah ekonomi dalam bentuk pemenuhan kebutuhan pangan dan kebutuhan lainnya.
d.      Mengembangkan kreativitas dan dan kemampuan mahasiswa sebagai modal persaingan global.

1.5   Manfaat
Manfaat yang diberikan dari kegiatan ini yaitu meningkatkan pemanfaatan sumberdaya hayati, mahasiswa dapat mengembangkan ide dan kreativitasnya dalam orientasi kewirausahaan serta pengembangan pangan khas lokal, memberikan pengetahuan kepada masyarakat tentang pembangunan industri pengolahan sagu serta meningkatkan kerjasama dalam tim untuk penyelesaian kegiatan ini.

BAB 2.  GAMBARAN UMUM RENCANA USAHA
2.1   Gambaran Kondisi Lingkung
Indonesia merupakan Negara maritim dimana sebagian besar penduduknya berprovesi sebagai petani, maka sebagian besar pendapatan Negara beasal dari hasil pertanian.  Besarnya potensi lingkungan sebagai daerah tropis membuka banyak peluang usaha di bidang pertanian, baik pada industri budi daya tanaman maupun industri pengolahannya.  Banyak komoditi-komoditi unggulan pertanian maupun komoditi-komoditi potensial yang berkembang di Indonesia seperti tanaman sagu. Salah satu daerah penghasil sagu di Indonesia adalah Provinsi Sulawesi Tenggara, namun sebagian besar penduduk Sulawesi tenggara masih mengkonsumsi sagu secara subsisten.  Kurangnya industri pengolahan sagu di Sulawesi tenggara menyebabkan sebagian besar sagu hanya dijual dalam bentuk mentah atau tidak melakukan penambahan nilai (Added Value).
2.2   Potensi Sumber Daya dan Peluang
Tanaman sagu merupakan tanaman yang sangat cocok tumbuh pada wilayah daratan rendah dan rawa-rawa.  Salah satu wilayah yang banyak memproduksi sagu yaitu Provinsi Sulawesi Tenggara.  Daerah-daerah yang banyak memproduksi sagu yaitu terletak pada daerah kabupaten konawe, kabupaten konawe selatan, kabupaten kolaka, kabupaten kolaka timur, kabupaten kolaka utara, kabupaten kolaka dan kota kendari.  Sagu merupakan tanaman perkebunan unggulan Sulawesi tenggara setelah coklat, kelapa, mete, nilam, dan cengkeh. Setiap tahunya produksi sagu di daerah ini cukup berlimpah, sehingga tidak heran banyak masyarakat yang menjadikan sagu sebagai makanan pokoknya. Jumlah produksi sagu di Provinsi Sulawesi Tenggara dapat dilihat pada Tabel 1 berikut.
Tabel 1. Produksi Tanaman Sagu/Sagu Palm di Daerah Provinsi Sulawesi Tenggara (Ton)
No.
Tahun
Produksi
(Ton)
1
2009
4.923
2
2010
6.165
3
2011
4.877
4
2012
4.977
5
2013
6.327
BPS Sulawesi Tenggara, 2014

Berdasarkan tabel di atas, produksi sagu sejak tahun 2011 sampai 2013 semakin meningkat.  Berdasarkan data tersebut maka sagu sebagai sumberdaya atau input pokok usaha makanan lanta dan kebab sagu dapat diperoleh dengan mudah.  Jumlah produksi sagu di daerah Sulawesi Tenggara memang cukup berlimpah namun tidak sejalan dengan pertumbuhan industri pengolahan sagu baik skala besar, menengah maupn skala kecil, sehingga banyak hasil panen yang tidak laku dipasaran terbuang sia-sia karena bersifat balky (mudah busuk). Masyarakat biasanya hanya mengolah sagu menjadi sinonggi dan tidak memberikan nilai tambah (Added Value), sedangkan permintaan akan olahan sagu dengan berbagai jenis lainnya cukup diminati oleh masyarakat seperti lanta, namun masih sangat jarang masyarakat yang menawarkan produk tersebut.  Menurut Freddy (2006), peluang usaha atau bisnis juga dapat dilihat berdasarkan jumlah kompetitor atau pesaing usaha.  Jumlah kopetitor usaha sejenis berupa usaha kedai makanan memang cukup banyak di Kota Kendari, namun kedai yang khusus menyediakan olahan sagu sangat jarang di Kota Kendari bahkan di Indonesia.  Berdasarkan hal tersebut maka kesempatan dan peluang kesuksesan usaha kedai sagu ini cukup besar.
A.    Bahan Baku
Produk yang akan kami tawarkan dalam usaha kedai sagu beraneka ragam, namun original produk yang saya tawarkan adalah Lanta Sagu dan Kebab Sagu. Semua produk yang saya tawarkan berbahan dasar tepung sagu.  Tepung sagu dan bahan lainnya seperti sayuran, gula merah, keju, coklat dan saos sambal saya dapatkan di pasar tradisional terdekat seperti Pasar Andonuhu dan pasar tradisional lainnya, yang terdapat di Kota Kendari.  Selain pasar tradisional, alternatif tempat perolehan tepung sagu didapatkan di tempat produsen sagu secara langsung, yaitu di daerah Kecamatan Konda Kabupaten Konawe Selatan dan sekitarnya.   Bahan baku dapat diperoleh secara kontiniu karena banyaknya daerah penghasil sagu di Provinsi Sulawesi Tenggara.  Mutu tepung sagu dan bahan lainnya dapat mempengaruhi kualitas produk, sehingga tepung sagu dan bahan lainnya haruslah dalam keadaan yang baik atau belum mengalami masa pembusukan (balky).
B.     Peralatan
Saat ini peralatan yang telah dimiliki yaitu beruapa alat masak seperti kompor sejumlah satu buah, wajan satu buah, spatula satu buah, loyang tiga buah, sendok satu lusin, dan sejumlah peralatan masak lainnya.  Untuk kedepan alat yang perlu untuk diadakan dalam usaha kedai ini yaitu berupa printer kemasan, dan penambahan jumlah alat masak.  Investasi awal usaha kedai sagu membutuhkan gerobak makanan, payung hiasan, dan tempat usaha.  Kedepan saya berharap kedai sagu yang kami bangun memiliki furnitur hiasan dari tanaman sagu untuk menambah keunikkan dari kedai sagu ini.
C.   

Sumber Daya Manusia
Terkait dengan jumlah sumber daya manusia atau karyawan, tergantung pada jumlah mahasiswa atau anggota IAAS yang mau ikut mebantu.  Usaha yang saya lakukan untuk tahap awal hanya akan mengambil karyawan lepas dengan gaji sesuai dengan pendapatan dan waktu kerjanya.  
Menurut Wikipedia Indonesia (2014), keunikan atau keunggulan yang terdapat dalam produk usaha juga turut menentukan jumlah konsumen produk yang ditawarkan.  Keunggulan usaha ini bukan hanya terletak pada produk lanta sagu dan kebab sagu yang belum pernah di tawarkan dipasaran, selain itu keunggulan atau keunikan usaha ini terletak pada bentuk kedai yang menarik. Bentuk kedai yang dihiasi dengan berbagai kreatifitas berbahan dasar tanaman sagu, akan menarik masyarakat untuk datang dan mencoba produk yang kami tawarkan.  Lanta merupakan makanan khas suku muna yang terbuat dari sagu yang telah dicampur dengan kelapa parut yang disangrai dan diisi gula merah. Banyak masyarakat yang menggemari lanta sebagai makanan cemilan rumahan namun belum ada yang menjajakannya.  Kebab sagu merupakan inovasi makanan hasil kombinasi lanta dan kebab yang berasal dari Negara timur tengah.  Kebab sagu juga terbuat dari sagu yang telah disangrai menyerupai dadar yang kemudian diisi dengan sayuran, naget, saos, dan telur dadar.  Produk lanta dan kebab sagu sangat enak dan mempunyai harga yang terjamin untuk semua kalangan.  Produk lanta dan kebab sagu juga delengkapi dengan bentuk dan desain gambar yang menarik karena menggunakan aplikasi photoshope dan desain kemasan yang ramah lingkungan. Kegiatan produksi termaksuk proses pengemasan produk menggunakan alat yang sederhana. Alat-alat yang digunakan untuk memproduksi lanta dan kebab sagu menggunakan alat masak sebagaimana biasanya seperti wajan spatula, kompor, dan alat-alat masak lainnya.
Kegiatan produksi sampai pada pemasaran dilakukan dengan menjajahkan produk secara langsung kepada konsumen serta menggunakan sistem pesan antar melalui jaringan sosial dan pesan pada nomor handphope usaha. Terdapat suatu yang menarik dari kegitan pemasaran dan pelayanan konsumen, yaitu terdapat pada bahasa dan pakaian yang dipakai menggunakan baju seragam berwarna hijau untuk semua karyawan dan selain menggunakan bahasa Indonesia proses pelayanan juga menggunakan bahasa asing seperti bahasa korea dan bahasa inggris. Hal ini dibuat untuk menambah keunikkan dari kedai sagu saya.  Berbagai keunikan usaha kedai sagu ini akan menambah peluang suksesnya usaha ini.


2.3 

 Analisis Kelayakan Usaha
Suatu usaha membutuhkan tindak analisis kelayakan agar dalam penetapan keputusan benar-bener menjadi keputusan yang dapat menghasilkan profit yang besar.  Salah satu alat analisis yang dapat digunakan dalam membuka suatu usaha yaitu analisis kelayakan ekonomi.  Alat analisis kelayakan ekonomi diperoleh dengan membandingkan total pendapatan yang diperoleh dengan total biaya yan dikeluarkan, atau yang biasa disebut dengan analisis kelayakan Benefit per Cost Ratio (B/C Ratio).  Analisis kelayakan usaha lanta dan kebab sagu dapat dilihat pada tabel 2.
Tabel 2. Analisis Kelayakan Ekonomi Usaha Lanta dan Kebab Sagu Selama Enam Bulan ke Depan

Pendapata/biaya = 40.800.000 = 2, 17
                                 18.800.000
                                


B/C Rasio :



Berdasarkan nilai B/C Ratio 2,17 dapat disimpulkan bahwa, usaha kedai sagu secara ekonomi merupakan usaha yang cukup memberikan profit yang besar dimana, dengan biaya Rp 1.000,- kita dapat menghasilkan Rp 2.170,- atau dua kali lipat.







































BAB 3.  METODE PELAKSANAAN

                            
Gambar 1.  Bagan Metode Pelaksanaan
Diskusi Tim dan Pembimbing
Salah satu pencapaian keberhasilan dalam suatu usaha ditentukan oleh komunikasi, diskusi, dan kerjasama yang dibangun antara tim dan juga pembimbing.  Diskusi antara tim dan dosen pembimbing perlu dilakukan sejak awal hingga akhir kegiatan. Hal ini dimaksudkan agar usaha yang dilakukan mendapatkan arahan dan bimbingan sehingga menjadi lebih baik.
Tahap Persiapan
Sebelum masuk ke tahap pelaksanaan atau produksi maka dalam sebuah usaha, haruslah ada tahap persiapan.  Hal-hal yang perlu dipersiapkan yaitu pembelian alat dan bahan, pemesanan bahan baku.
Tahap Pelaksanaan
Setelah dilakukan persiapan yang matang, maka langkah selanjutnya adalah tahap pelaksanaan.  Tahap pelaksanaan meliputi pembuatan makanan lanta dan kebab sagu.  Lanta sagu dan kebab sagu memiliki proses produksi yang sangat mudah.  Adapun proses produksi lanta sagu yaitu sebagai berikut:
a.      
9
Menyiapkan semua bahan dan alat produksi lanta sagu.  Kemudian merendam tepung sagu selama setengah jam untuk menghilangkan kotoran di dalamnya.
b.      Mencampurkan tepung sagu dengan kelapa yang telah diparut terlebih dahulu, kemudian campuran tersebut disangrai dengan cara dilebarkan seperti dadar.
c.       Setelah disangrai, di atas dadar sagu tersebut diisi dengan gula merah atau keju, kemudian menggulungnya seperti dadar pada biasanya.
Proses kebab sagu memiliki cara yang tidak berbeda jauh dengan lanta sagu.  Lanta sagu yang telah disangrai dilapisi dengan naget ikan, sayuran dan mayonais atau saos sambal, sesuai dengan selera konsumen.  Produk lanta sagu dan kebab sagu kemudian dibungkus dengan kemasan yang menarik.
Tahap Pemasaran
Produk lanta sagu sangat cocok untuk berbagai kalang baik siswa, mahasiswa, maupun seluruh masyarakat.  Hal ini disebabkan karena lanta sagu sangat cocok menjadi bekal dan cemilan.  Harga lanta dan kebab sagu yang murah juga mendukung luasnya potensi pasar atau jumlah klien.  Harga produk lanta sagu yaitu Rp 3.500 per buah, sedangkan harga kebab sagu yaitu Rp 6.500 per buah.  Teknik pemasaran lanta sagu yaitu dengan menawarkannya secara langsung di kedai sagu yang kami buat, serta melakukan promosi pada media sosial dan pamphlet usaha.  Pemasaran produk juga kami lakukan dengan cara pesan antar sehingga memberikan kenyamanan dan kemudahan bagi para konsumen.
Evaluasi
Dalam usaha makanan lanta dan kebab sagu ini akan dilakukan evaluasi pada saat proses produksi dan pemasaran berakhir  yang dilakukan setiap dua minggu sekali, sehingga dapat diketahui kemajuan dan perkembangan usaha yang dilakukan.
Pelaporan
Setelah kegiatan usaha berjalan, maka perlu adanya pelaporan. Bahwa usaha berjalan secara efektif dan efisien sesuai dengan tujuan yang ingin dicapai dalam kegiatan usaha makanan lanta dan kenbab sagu. Pelaporan dilakukan pada saat bulan ke-3 setelah proses evaluasi dilakukan.
  10
BAB 4.  BIAYA DAN JADWAL KEGIATAN
4.1 Anggaran Biaya
No.
Jenis Pengeluaran
Biaya (Rp)
1.
Peralatan Penunjang (30%)
3.750.000
2.
Bahan Habis Pakai (50%)
6.250.000
3.
Perjalanan (10%)
1.250.000
4.
Lain-lain (10%)
1.250.000
Jumlah
12.500.000

4.2 Jadwal Kegiatan
No.
Jenis Kegiatan
Bulan
I
II
III
1
2
3
4
1
2
3
4
1
2
3
4
1.
Diskusi Tim dan Pembimbing












2.
Survei Alat Dan Bahan












3.
Persiapan Alat dan Bahan Baku












4.
Desain Kemasan, Spanduk, dan Pamflet












5.
Pembuatan dan Pemasaran Produk












6.
Evaluasi












7.
Pelaporan





























            

Lampiran 1. Biodata Ketua, Anggota dan Dosen Pembimbing     

Lampiran 2. Justifikasi Anggaran Kegiatan

Material
Justifikasi Pemakaian
Kuantitas
Harga Satuan (Rp)
Jumlah (RP)
Gerobak Makanan
Umur ekonomis 8 tahun
1 buah
2.000.000
2.000.000
Peralatan masak
Umur ekonomis 5 tahun
1 paket
800.000
800.000
Peralatan makanan
Umur ekonomis 5 tahun
1 paket
300.000
300.000
Purniture pendukung
Umur ekonomis 7 tahun
1 paket
650.000
650.000
SUB TOTAL (Rp)
3750000
2. Bahan Habis Pakai
Sagu
3 bulan
200 kg
3.600
720.000
Gula merah
3 bulan
10 kg
15.000
150.000
Sayuran
3 bulan
35 kg
10.000
350.000
Terigu
3 bulan
20 kg
8.000
160.000
Saos sambal
3 bulan
15 botol (dalam 340 ml)
12.000
180.000
Cabai
3 bulan
5 kg
25.000
125.000
Merica
3 bulan
1 kg
70.000
70.000
Tepung panir
3 bulan
6 kg
37.500
225.000
Bawang putih
3 bulan
5 kg
15.000
75.000
Bawang merah
3 bulan
5 kg
20.000
100.000
Bahan bakar
3 bulan
60 liter
10.000
600.000
Minyak goreng
3 bulan
50 liter
11.000
550.000
Garam
3 bulan
5 kg
5.000
25.000
Penyedap rasa
3 bulan
1 pak
20.000
20.000
Daging ikan
3 bulan
100 kg
20.000
2.000.000
Kelapa (kg)
3 bulan
100 buah
3.500
350.000
Telur
3 bulan
10 rak
35.000
350.000
Dos kemasan
3 bulan
8 pak (isi 100 dos)
20.000
200.000
SUB TOTAL (Rp).
6.250.000






Lanjutan lampiran 2…
3. Perjalanan
Material
Justifikasi Pemakaian
Kuantitas
Harga Satuan (Rp)
Jumlah (RP)
Transportasi ke tempat usaha
6 bulan
150 kali pulang balik
2.000
300.000
Transportasi ke tempat petani sagu
6 bulan
50 kali pulang balik
10.200
510.000
Transportasi pasar
6 bulan
50 kali pulang balik
88.000
440.000
SUB TOTAL (Rp)
1.250.000
4. lain-lain
Kamera
Umur ekonomis 4 tahun
1 buah
1.000.000
1.000.000
Spanduk usaha
Umur ekonomis 2 tahun
1 buah (1 m × 0.5 m)
45.000
45.000
Pamflet usaha
Satu kali pemakaian
21 lembar
5.000
105.000
Laporan
6 bulan
5 rangkap
50.000
50.000
ATK
3 bulan
1 paket
50.000
50.000
SUB TOTAL (Rp)
1.250.000
Total (keseluruhan)
12.500.000
















Lampiran 3. Susunan Organisasi Tim Kegiatan dan Pembagian Tugas
No.
Nama / NIM
Program Studi
Bidang Ilmu
Alokasi Waktu (jam/minggu)
Uraian Tugas
1
La Ode Abdul Asis Hasidu
Agribisnis
Agribisnis
60
a.    Mengkoordinir sega proses poduksi, pemasaran, dan pelaporan usaha.
b.   Membeli input atau bahan-bahan pembuatan lanta dan kebab sagu.
c.    Memproduksi lanta dan kebab sagu di rumah produksi.
d.   Menjual lanta dan kebab sagu.
e.    Mencatat rekapitulasi usaha makanan lanta dan kebab sagu.
f.    Menyusun laporan perkembangan usaha.
2
Yuyun Afrianto
Sosiologi
Sosial
60
a.    Membantu membeli input atau bahan-bahan pembuatan lanta dan kebab sagu.
b.   Membantu memproduksi lanta dan kebab sagu di rumah produksi.
c.    Membantu menjual lanta dan kebab sagu.
d.   Membantu menyusun laporan perkembangan usaha.
e.    Membantu merekapitulasi dana usaha.
Lanjutan lampiran 3…




No.
Nama / NIM
Program Studi
Bidang Ilmu
Alokasi Waktu (jam/minggu)
Uraian Tugas
3
Erna
Agribisnis
Agribisnis
24
a.    Memproduksi lanta dan kebab sagu di rumah produksi.
b.   Menjual lanta dan kebab sagu.
4
Ahmad Saltin
Budidaya Perairan
Perikanan
24
a.    Menyusun laporan perkembangan usaha.
b.   Megadakan infrastruktur usaha seperti spanduk, gerobak, kursi, meja, dan lain-lain.
5
La Ode Muhammad Arjuna Ruslan
Agribisnis
Agribisnis
60
a.    Memproduksi lanta dan kebab sagu di rumah produksi.
b.   Menjual lanta dan kebab sagu.
c.    Menyusun laporan perkembangan usaha.









Lampiran 4. Surat Pernyataan Ketua Kegiatan